Timika (suaramimika.com) – Angka kasus stunting di Distrik Kwamki Narama pada Tahun 2024 sampai 2025 masih berada di angka 101 anak.
Untuk menurunkan angka stunting ini, pihak Distrik Kwamki Narama melihatkan stakeholder terkait mulai dari tenaga kesehatan, tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) di 9 kampung dan 1 kelurahan, tenaga Posyandu, Tripindis yakni kepala distrik, Kapolsek, dan Danramil.
Salah satu bentuk kerja sama untuk menurunkan angka stunting juga, Distrik Kwamki Narama menggelar kegiatan pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga tingkat distrik dan kelurahan, Rabu (19/11/2025) di Aula Cenderawasih Hotel Serayu Timika.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Mimika, Frans Kambu mengatakan, masalah stunting bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan generasi.
Stunting berdampak pada tumbuh kembang anak, kecerdasan, serta produktivitas mereka di masa depan.
“Karena itu, upaya penurunan stunting membutuhkan kerja sama semua pihak diantaranya pemerintah, organisasi perempuan, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, serta seluruh keluarga,” ujar Kambu.
Kegiatan hari ini kata Kambu, menjadi sangat penting karena melalui PKK, dapat memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pemenuhan gizi, pola asuh, dan kesehatan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Kambu berharap dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gizi seimbang
pentingnya 1.000 HPK, serta pemantauan tumbuh kembang anak, menguatkan kerja sama lintas sektor, terutama di tingkat kelurahan dan RT/RW, mendorong keluarga untuk lebih aktif memanfaatkan posyandu dan layanan kesehatan lainnya.
Terakhir adalah membangun komitmen bersama untuk menjadikan distrik kwamki narama sebagai wilayah yang bebas stunting.
Kepala Distrik Kwamki Narama N Edwin H menyebut, untuk menurunkan stunting, pihaknya melibatkan stakeholder dan tripidis karena program ini tujuannya nanti berkelanjutan.
“Kami sudah sosialisasi dan dan hari ini kita tanda tangani kesepakatan pernyataan bersama untuk komitmen penurunan stunting karena dari tahun lalu sebanyak 101 anak yang stunting. Angka ini tidak turun dari tahun lalu sampai sekarang,” jelasnyam
Untuk menurunkan stunting, distrik melihatkan aparatur kampung di 9 kampung dan 1 kelurahan. Dengan kesepakatan bersama akan dorong kegiatan yang sama di Tahun 2026.
“Kita prioritaskan penurunan stunting karena salah satu visi dan misi bupati/wakil bupati,” ungkapnya.
Setelah penandatanganan komitmen, ada agenda yang disiapkan kata Edwin, yakni anak-anak yang terkena dampak stunting, akan siap diasuh oleh pihak pemerintah.
“Pemerintah akan jadi orang tua asuh. Tanggung jawab pemerintah untuk menurunkan stunting. Saya harapkan di Tahun 2026 kasus stunting bisa menurun sesuai dengan visi dan misi bupati/wakil bupati,” pungkasnya. (Sitha)




















