Kabar Mimika

Awal Tahun 2026, Program Clean Friday Distrik Wania Menyasar Kampung Mawokauw Jaya

×

Awal Tahun 2026, Program Clean Friday Distrik Wania Menyasar Kampung Mawokauw Jaya

Sebarkan artikel ini
Kepala Distrik Wania, Merlyn Temorubun bersama tim dan TPPKK, kader malaria serta pihak terkait saat melakukan aksi clean friday di Kampung Mawokauw Jaya.

Timika (suaramimika.com) – Pasca dicanangkan oleh Bupati Mimika Johannes Rettob pada akhir Bulan Agustus 2025, program Clean Friday (Jumat Bersih) yang digagas oleh Distrik Wania terus dilanjutkan tahun ini.

Membuka Tahun 2026, program clean friday di Distrik Wania berlangsung di Kampung Mawokauw Jaya.

Kepala Distrik Wania, Merlyn Temorubun, S.STP, Sabtu (2/1/2026) mengatakan, pada kegiatan Clean Friday Kampung Mawokau Jaya, timnya bersama kader dan masyarakat melakukan penelusuran serta penanganan di lima titik lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk malaria.

Di lokasi-lokasi tersebut kata Merlyn, juga dilakukan pengambilan sampel sebelum penaburan obat pembunuh jentik.

Hasil pemantauan di lapangan lanjutnya, menunjukkan bahwa pada beberapa genangan dan kolam, tidak ditemukan jentik nyamuk, karena di dalamnya terdapat ikan-ikan kecil yang secara alami memangsa jentik.

“Hal ini menunjukkan bahwa pada perairan yang masih “hidup” dan seimbang, jentik nyamuk malaria sulit berkembang,” ujar Merlyn.

Kata Merlyn, pelaksana kegiatan ini adalah TPKK dan Kader Malaria. Sementara itu, pihak distrik bertindak sebagai pengarah.

“Kami dari distrik sebagai pengarah,” jelasnyam

Melalui kegiatan Clean Friday hari ini, laniut Merlyn, semakin menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa lagi dilakukan secara parsial atau sesaat, tetapi harus dilakukan secara terpadu, konsisten, dan melibatkan masyarakat secara aktif.

Keberadaan wadah-wadah yang sudah menjadi tumpukan sampah itulah sebutnya yang ada ditemukan jemtik nyamuknya.

“Oleh karena itu kami mengajak masyarakat untuk aktif membuang sampah dan membersihkan area pemukiman secara gotong royong,” ungkapnya.

Di Distrik Wania, kata Merlyn, penanganan sampah tidak dimulai dari kebijakan di atas meja, tetapi dari aksi nyata di lapangan melalui aksi membersihkan, menutup genangan, dan mengubah kebiasaan sehari-hari masyarakat.

”Karena pada akhirnya, persoalan sampah dan dampaknya terhadap kesehatan tidak bisa diselesaikan tanpa keterlibatan warga sebagai pelaku utama,” jelas Merlyn.

Tahun 2026 tambah Merlyn, akan dijadikan sebagai titik awal penanganan sampah secara holistik di Distrik Wania, dengan pendekatan gotong royong, edukasi berkelanjutan, dan pendampingan masyarakat.

“Bukan sekadar mengangkut sampah, tetapi membangun kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kolektif,” pungkas Merlyn. (Sitha)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *