Timika (suaramimika.com) -Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Mimika yang baru dibentuk memiliki salah satu layanan unggulan yang dibuka untuk umum.
Plt Kepala BRIDA, Slamet Sutedjo, Rabu (28/1/2026) mengatakan, melalui sebuah platform digital yakni Sistem Informasi Inovasi Daerah Kabupaten Mimika (SIRIDAKAMI), berbagai inovasi daerah dapat terdata dan dikembangkan secara terstruktur.
“SIRIDAKAMI ini adalah sebuah platform digital yang sebelumnya telah disiapkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Ini produk unggulan BRIDA untuk mendata inovasi daerah,” ujar Slamet.
Setelah BRIDA kata Slamet, kini resmi bergabung dalam Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Mimika, ia berharap dapat mendekatkan layanan inovasi kepada masyarakat secara lebih luas dan mudah diakses.
Slamet menyebutkan, di sejumlah daerah BRIDA masih berada di bawah naungan Bappeda. Namun di Kabupaten Mimika, BRIDA berdiri sebagai badan tersendiri. Hal ini menjadi penegasan komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan Mimika sebagai daerah yang inovatif.
Selain layanan inovasi, BRIDA Mimika juga membuka layanan pendampingan penelitian bagi mahasiswa dan peneliti, baik jenjang mahasiswa S1 maupun S2. Layanan ini mencakup penyediaan data pendukung untuk penulisan skripsi dan tesis.
Lanjut Slamet, layanan penting lainnya adalah fasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi inovasi yang dihasilkan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), instansi vertikal, maupun masyarakat umum.
“Kita membantu masyarakat Mimika yang memiliki inovasi agar didaftarkan hak kekayaan intelektualnya. Ini sangat penting, karena selama ini masih terpisah-pisah. Sekarang kita kolaborasikan di dalam MPP,” tambahnya.
Lanjutnya, BRIDA Mimika mencatat sebanyak 74 inovasi telah terdata dalam sistem SIRIDAKAMI. Ke depan, BRIDA membuka peluang pengembangan inovasi hingga ke lingkungan sekolah, media, dan komunitas masyarakat.
Ia berharap inovasi yang lahir tidak hanya sebatas terdaftar, tetapi juga berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Kita ingin inovasi ini kontinu, kemanfaatannya bisa dirasakan hingga lima sampai sepuluh tahun ke depan. Bukan hanya muncul sesaat lalu hilang,” pungkas Slamet. (Sitha)




















