Penulis : Siti Aminah
Tubuh tegak itu masih sama seperti ketika datang pertama kali di Tahun 2003. Ya, 23 tahun sudah berlalu, ketika ia menapakkan kakinya di halaman Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Langkah kaki kecil dr. Enny Kenangalem, M.Biomed dimulai dari tempat tinggal bersama karyawan, yang lokasinya cukup dekat dari rumah sakit.
Berjalan menyusuri sepanjang koridor rumah sakit yang terbuat dari kayu, membuat Enny sangat dekat dengan suasana masa kecilnya di Pegunungan Papua.
RSMM selalu membuatnya mengingat kembali suasana tempat kelahirannya di Kampung Angguruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Tengah.
Lingkungan RSMM seperti berada di hutan kecil. Terdapat puluhan pepohonan dan tanaman hijau yang mengelilingi setiap bangsal perawatan di sana.
Kicauan merdu burung-burung pagi itu seperti menyambut Enny dengan riangnya. Senyum kecilnya selalu tersungging di ujung bibirnya yang manis menyambut berkat Tuhan padanya.
Berjalan penuh percaya diri mengenakan setelan casual, dipadupadankan dengan sepatu sporty, sesekali ia menoleh sepintas mendengarkan obrolan keluarga pasien.
Sambil tersenyum, Enny menyapa keluarga pasien mulai dari bapak-bapak yang mengunyah pinang, anak-anak kecil yang berlarian sampai mengusili rekan sejawatnya yang sok serius padahal waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WIT.
Ketika sampai di ruang UGD, ia tersentak melihat begitu banyaknya pasien yang dirawat semalam sambil berpikir beratnya pekerjaan rekan sejawatnya.
Tapi, kemudian tawanya tertahan karena melihat kepanikan rekan sejawatnya yang harus melaporkan situasi terakhir kepada pimpinan rumah sakit.
Keisengan yang muncul dalam kepalanya mendadak sirna karena melihat tatapan tajam dan keseriusan pimpinan rumah sakit ketika menanyakan detail perjalanan penyakit kepada dokter jaga, karena sadar bahwa pertanyaan berikut bakal tertuju juga kepadaku.
Syukurlah suasana ini tidak bertahan lama karena ada panggilan dari poliklinik. Satu persatu pasien mulai terlayani di poliklinik sambil Enny melihat peluang untuk melibatkan pasien mana yang bisa dilibatkan dalam penelitian dasar malaria.
Ketika ada pasien yang bersedia didalam penelitiannya, Enny akan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian untuk kemudian mengunggunya sampai pasien mencerna informasi sesuai dengan arahannya.
Bila pasiennya mau, menyetujui untuk terlibat dalam penelitian, Enny akan mengambil data pasien di laboratorium.
Dengan pemahaman pasien yang terbatas, Enny berupaya memberi penjelasan dengan sesederhana mungkin sampai bisa dimengerti. Pemahaman ini penting diketahui bukan hanya kepada pasien namun juga keluarganya. Jika pasien setuju, berarti ia akan melibatkan seluruh komunitasnya.
Setelah data pasien ada, Enny akan melayani sampai pasien dapat obat dan pulang kembali.
Kemudian, proses selanjutnya ia akan memulai aktivitas di laboratorium sesuai prosedur yang ditetapkan secara ilmiah. Darah yang diambil akan memberikan banyak informasi kesehatan dasar tentang pola penyakit.
Penuh ketelitian, Enny memulai memegang tabung darah, mengambil pipet, kemudian mengolah darah dalam tabung dengan perlakuan khusus yang bisa mengambil waktu berjam-jam.
Pekerjaan ini tidak dilakukan sendiri, ada rekan analis laboratorium senantiasa membantu sehingga darah yang diambil tidak terbuang sia-sia.
Tidak menduga dari yang awalnya sederhana, Enny tidak menyangka jika kesehariannya ini akan membawanya untuk belajar aspek biomedis secara lebih mendalam.
Dalam dunia penelitian, ketelitian harus sampai ke ukuran yang sekecil mungkin, bahkan mendekati angka nol koma sekian.
“Betapa tidak, jika dalam satu eksperimen terjadi kesalahan sekecil apa pun setelah bekerja selama satu minggu penuh, maka saat hasil pada hari ketujuh atau kesepuluh tidak sesuai harapan, kami harus mengulang semuanya kembali dari titik nol,” ucapnya dengan senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Setelah 20 tahun bergelut pada bidang yang sama, dunia Enny ternyata bukan saja dunia biomedis dan pelayanan klinis di rumah sakit tetapi juga meluas ke pelayanan kesehatan masyarakat.
Perempuan pertama berusia 57 tahun dari Suku Yali ini terlihat masih cekatan melakukan pekerjaannya. Ia terus fokus pada bidang ini setiap hari secara berulang-ulang.
Siapa yang bisa menyangka jika penelitian dua penyakit besar yang menjadi tantangan utama di Mimika yakni Malaria dan Tuberkulosis berbuah manis.
Walaupun masih membutuhkan waktu, tetapi dengan kegigihannya yang luar biasa bersama timnya, Enny terus mencari jawaban dari setiap penelitian.
“Selalu ada pertanyaan baru dari setiap penelitian kami. Dari hasil penelitian, kami terus mendapatkan hal baru. Jadi, kita tidak berpuas diri. Sejenak kita menarik diri ke belakang melihat dan menilai dampak yang terjadi, kemudian mendorong teman-teman di garda terdepan melakukan perubahan dari hasil penelitian kita,” ungkapnya.
Khusus untuk malaria, penelitian mencakup segala karakteristik penyakit ini mulai dari yang ringan, berat hingga yang sudah kebal obat terutama klorokuin dan suldoks.
Ketika pengobatan malaria berubah, obat yang sudah tidak mempan karena resistensi, harus beralih ke obat baru, di sinilah Enny dan timnya mengambil peran besar. Berkat kerja sama tim yang solid, pengujian efektivitas obat yang kini dikenal luas sebagai “Obat Biru” membuahkan hasil yang luar biasa.
Tahun 2006, pertama kalinya obat biru itu dipakai secara luas di Timika dengan perjuangan yang cukup berat. Di mana, Enny dan timnya harus melakukan advokasi lintas sektor mulai dari eksekutif, legislatif bahkan sampai melibatkan peran besar PT Freeport Indonesia.
Untuk mendatangkan obat biru dengan akses khusus ini, Enny sampai memberanikan diri mengetuk pintu kerja pimpinan legislatif saat itu.
“Pada saat itu antara takut dan khawatir untuk bertemu orang besar karena merasa saya ini siapa sih. Tapi ketika saya liat yang duduk di kursi terhormat itu adalah laki-laki gunung, saya langsung merasa plong, bahwa saya bisa sampaikan keinginan saya tanpa rasa takut. Puji Tuhan, lancar prosesnya, jawabannya menenangkan hati. Bayangkan saat itu langsung disetujui Rp3 miliar untuk mendatangkan obat biru dari daratan China,” jelasnya.
Setelah mendapatkan persetujuan, dana pembelian obat biru itu disalurkan ke Dinas Kesehatan Mimika ke Kimia Farma.
Selang sebulan kemudian, obat biru tiba di Timika dan digunakan secara meluas. Untuk memastikan bahwa obat ini dipakai sesuai dengan peruntukannya, tiap hari Enny akan berkeliling dari satu Puskesmas ke Puskesmas lain.
Ketika obat biru itu mulai digunakan di luar “payung peneliti”, Enny menjaga obat biru itu seperti bayinya sendiri. Ia memastikan obat biru digunakan sesuai dengan prosedur dan tidak diselewengkan.
Mulai Tahun 2003 sampai sekarang, Enny tetap setia didalam pilihan pekerjaannya dengan segala dinamika yang ada.
Sampai tujuh tahun kemudian, Enny mendirikan yayasan penelitian yang mandiri tetapi tetap menjalin kolaborasi luas dari dalam dan luar negeri yang sama-sama peduli tentang kesehatan masyarakat.
“Kami meneliti secara menyeluruh, baik berbasis rumah sakit maupun turun langsung ke masyarakat. Hasilnya sungguh berarti, temuan-temuan itu berhasil mengubah standar pengobatan malaria berat maupun malaria biasa hingga ke tingkat nasional maupun internasional,” ujar Enny.
Mimpi bersama untuk mengeliminasi malaria penuh dengan tantangan. Tidak cukup hanya dengan penanganan klinis, yakni obat diberikan, pasien pulang kemudian sembuh.
Peneliti melihat lebih dari itu. Peneliti melihat lebih luas dengan penanganan tahap demi tahap yang sangat detail.
Peneliti tidak hanya mengedepankan keilmuannya, tetapi dibalik semua itu, mereka melandaskan setiap keputusannya juga pada panggilan hati nuraninya.
Ketika dua dunia diperhadapkan dengan pertanyaan masyarakat, maka Enny harus mampu menjawabnya.
Masyarakat kadang bertanya-tanya, “Kenapa harus diambil darahnya lagi? Kenapa harus tanda tangan persetujuan? Kenapa harus dipantau terus?”. Namun seiring berjalannya waktu, pemahaman itu tumbuh dan kini hal itu sudah menjadi kebiasaan yang diterima baik.
Untuk menjawab pertanyaan masyarakat, Enny bergerak ke mana saja, bahkan ke wilayah terpencil seperti SP 7, SP 9, hingga Mapurujaya.
Jalanan masih tanah berlumpur, mereka menunggangi sepeda motor mengejar pasien dan memberi pemahaman yang benar kepada keluarga pasien secara langsung.
Tim tidak sekadar mengobati, melainkan memantau kondisi mereka mulai dari pertama kali sakit, sembuh, hingga berbulan-bulan sampai bertahun-tahun kemudian.
Kisah Enny membuktikan, dari penelitian, kini hasilnya terlihat, kasus malaria berat di Timika sudah sangat jarang ditemui. Jika pun ada, biasanya itu pasien pendatang atau orang yang belum memiliki kekebalan tubuh.
“Hal yang sama terjadi pada pengobatan malaria biasa yang kini jauh lebih mudah diakses berkat Obat Biru yang kami teliti dulu,” kata Enny lirih.
Para peneliti memang lebih senang berada di balik layar. Yang penting masyarakat sehat dan kebijakan pengobatan berubah menjadi lebih baik. Mengaku-ngaku pahlawan bukanlah watak mereka.
Dulu Enny juga bekerja di unit penelitian yang dibangun berkat kerja sama PT Freeport dan mitra kolaborator di lingkungan RSMM. Di sana dibangun satu fasilitas yang menunjang pekerjaannya di lingkungan RSMM.
Dari laboratorium inilah, akhirnya dihasilkan temuan-temuan penting yang dimuat di berbagai jurnal ilmiah dunia. Salah satu penelitian terbaru yang menjadi kebanggaan adalah penelitian tentang limpa.
Selama ini orang mengira limpa hanya tempat pembuangan parasit, namun penelitian di Timika membuktikan bahwa
limpa menjadi tempat berkembang biaknya parasit malaria.
Ini adalah temuan pertama di dunia, dan jika terbukti sempurna, akan mengubah cara pandang dunia medis.
Namun, di balik semua pencapaian ini, ada kerinduan yang mendalam dihatinya karena sampai saat ini masih sangat sedikit anak Papua yang terjun ke dunia penelitian sains dasar.
Padahal, mungkin saja pola penyakit dan pengobatan di sini berbeda dengan daerah lain karena faktor genetik dan budaya yang hanya bisa dipahami oleh anak-anak Papua itu sendiri.
“Sayang kalau hal yang sangat mendasar ini dibawa pergi oleh orang lain,” katanya.
Enny mengingat kala itu di Tahun 2000an, ia pernah berkunjung ke Universitas Cenderawasih, di Fakultas Kedokteran.
Ia melihat betapa hebatnya semangat mahasiswa di tengah keterbatasan fasilitas. Sayangnya, kebanyakan anak kedokteran Papua lebih memilih jalur klinis sebagai pilihan pengabdiannya. Padahal dunia penelitian juga sangat menantang dan butuh ketangguhan mental.
Untuk itulah, jika ada anak Papua yang mau belajar di lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Teknologi Bandung (ITB) atau Universitas Gajah Mada (UGM) serta Universitas Indonesia (UI), mereka pasti akan disambut dengan tangan terbuka.
Pilihan menjadi peneliti adalah suatu tantangan karena peneliti akan bekerja dalam diam dan bukan mencari popularitas sehingga sangat wajar belum menjadi pilihan saat ini.
Namun kerinduanya tetap satu yakni segera lahir putra-putri Papua yang mau menjadi peneliti, agar kekayaan data kesehatan di tanah ini dapat diolah oleh anak bangsanya sendiri demi kemajuan Papua.
Terlepas dari tugas utamanya sebagai peneliti, Enny terlibat dalam berbagai aktivitas pelayanan di berbagai lembaga. Mulai dari organisasi pelayanan gereja (Pelkesi dan Perdaki). Bahkan sampai menyasar di bidang olahraga dengan keberaniannya menjadi Ketua Cabang Olahraga Persatuan Panahan Nasional (Perpani) Mimika.
Ketika mengambil tanggung jawab khususnya sebagai Ketua Cabor Perpani, sebenarnya ada pertentangan didalam hatinya karena ketika berbicara soal panahan didalam budaya orang Gunung, kaum perempuan tidak lumrah membawa panah.
Namun, dengan keteguhan hatinya, ia mencoba menyuarakan jika kaum perempuan sepertinya bisa sejajar dengan kaum laki-laki.
Ketika terlihat di berbagai organisasi kemasyarakatan itu, Enny bertemu dengan anak-anak muda inspiratif yang menggugah semangatnya untuk tetap berkarya.
Dari perbincangan lepas di atas meja kopi, lahirlah gagasan untuk mendirikan wadah bersama. Dari sekedar gagasan kecil, lahirlah Amungsa Fondation.
Amungsa Fondation hadir untuk menjawab pertanyaan kenapa penyakit-penyakit yang sebenarnya sudah bisa diatasi seperti Malaria, TBC, HIV, maupun gizi buruk pada anak masih saja menjadi masalah di sini?.
Sesungguhnya semua sudah baik, tidak ada yang salah, data dan upaya sudah maksimal. Tetapi Enny merasa ada yang hilang dari upaya bersama tersebut.
Awalnya hanya beranggotakan empat orang, namun perlahan Enny mengajak anak-anak muda lain yang memiliki semangat dan visi yang sama.
Sebagai yang lebih berpengalaman, Enny berperan mengarahkan dan menyeimbangkan perbedaan pandangan. Suasananya sangat sehat, gagasan besar anak muda bertemu kebijaksanaan pengalaman, dan bisa berdebat sebagai teman sejajar, namun tetap saling menghormati batasan.
Ia tidak bermimpi yang melangit. Harapanya sederhana jika diberi kesempatan, Enny ingin lewat Amungsa Foundation bisa mengembangkan satu wilayah percontohan kecil di pesisir dan pegunungan di beberapa kampung saja. Jika di sana terlihat perubahan perilaku sehat yang signifikan, barulah itu menjadi bukti keberhasilan suatu mimpi.
Ia sadar pemerintah sudah bekerja keras, namun kehadiran Amungsa Foundation ibarat “pasukan tambahan” bahkan sesekali bisa menjadi pengingat yang jujur. Prinsip yang ia ajarkan kepada anak-anak muda ini adalah merah harus dikatakan merah, putih adalah putih, hitam tetap hitam. Kebenaran harus ditegakkan apa adanya.
Dan untuk para perempuan, apa rahasia agar tetap kuat, bahagia, dan tegar?
Kata Enny, jangan memendam dendam. Jangan memelihara kemarahan di hati.
kedua, jangan merasa iri atau kurang hanya karena orang lain memiliki lebih banyak. Masing-masing sudah memiliki jatah dan porsinya sendiri. Hiduplah dengan apa adanya, dan syukuri atas apa yang kau capai dan miliki.

Dalam temaram senja sore itu, ketika mengakhiri bincang-bincang, Enny mengingat jika ia bisa berjalan dengan dompet kosong namun tetap bahagia, karena tahu tanah ini dan Tuhan senantiasa menyediakan berkat.
Kadang ia berjalan di jalanan, tiba-tiba bertemu pasien lama dari SP I yang menyapa, “Dokter, ini saya punya sedikit hasil kebun, terimalah.” Hal sederhana seperti inilah kekayaan sesungguhnya yang tidak bisa dibeli dengan uang.
“Teruslah berbuat baik, karena kau tak pernah tahu dengan cara apa alam semesta akan membalas kebaikan itu kembali kepadamu,” ucap Enny yang kini menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika.
Demikianlah perjalanan hidup Enny, sebuah kisah sederhana tentang melangkah, berjuang, dan mengabdi. (*)
















