Timika (suaramimika.com) – Sebagai upaya untuk melestarikan wisata pendakian di Puncak Nemangkawi atau dikenal juga sebagai Cartenz Pyramid, Yayasan Wisatari Alam Papua (YWAP) menggelar Forum Group Discussion (FGD) di Hotel Horison Diana pada Selasa (23/9/2025).
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Frans Kambu mengatakan bahwa keterlibatan seluruh pihak sangat penting, terutama masyarakat setempat, bahkan dari berbagai penjuru dunia dalam mengembangkan potensi wisata gunung Cartenz.
Untuk itu, ia mengingatkan bahwa sejak tahun 1962, pendakian ke puncak tersebut sudah dilakukan oleh pendaki asing maupun beberapa orang Papua, termasuk mahasiswa asli daerah.
“Pemerintah Kabupaten Mimika, mendukung penuh semua kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal. Kita harus bergandengan tangan, melibatkan masyarakat sekitar agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi bagian aktif dalam pengembangan wisata ini,”ujar Kambu.
Sehingga ia mengajak semua pihak untuk menjaga hubungan baik dengan Tuhan dan sesama, membangun komunikasi erat dengan aparat keamanan, pemuda, pemudi, serta tokoh masyarakat.
“Tujuan kita jelas dan harus ada target yang ingin dicapai bersama. Tidak hanya sebatas acara seremonial, tapi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kesejahteraan keluarga di sekitar puncak Nemangkawi,”tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan sertifikat sebagai bentuk pengakuan dan langkah awal, dalam membangun sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan para pendaki.
Sementara itu, Pendiri Yayasan Honai Adat Pengusaha Papua (Hapak), Dolfin Beanal mengatakan, selain menggelar FGD, pihaknya juga mewadahi pemberian sertifikat oleh pihak yang mewakili Kementerian Pariwisata kepada para pendamping pendakian Puncak Nemangkawi yang telah mengikuti pelatihan beberapa waktu lalu.
Pemberian sertifikat ini kata Dolfin, dilakukan agar tenaga pendamping yang nantinya mengawal para pendaki ke Puncak Nemangkawi memiliki kompetensi.
Menurutnya pendamping para pendaki ini, adalah anak-anak asli Amungme yang juga bertugas untuk melestarikan keberadaan gunung Nemangkawi.
“Dengan adanya anak-anak kita dari Amungme, untuk mendampingi para wisatawan yang mau naik gunung Nemangkawi ini. Selain untuk melestarikan juga, agar tidak ada lagi orang-orang yang mau mencuri atau mendampingi wisatawan tapi tidak punya lisensi,”tegas Dolfin.
Adapun para pendamping wisatawan ini kata Dolfin, telah memiliki sertifikat dan berada di bawah naungan YWAP.
Ia menyebutkan jika YWAP, selanjutnya berada di bawah naungan Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI).
Nantinya ungkap Dolfin, setiap kabupaten dan kota di Provinsi Papua Tengah, akan memiliki perusahaan berbadan hukum CV atau PT untuk upaya melestarikan gunung.
“Nanti akan dilantik dulu di Papua Tengah. Selanjutnya setiap kabupaten dan kota, akan punya perusahaan untuk upaya pelestarian gunungnya masing-masing,”ucap Dolfin. (Sitha)




















