Timika (Suaramimika.com) – PT Freeport Indonesia menggandeng Tempo Institute dalam pelatihan menulis feature (karangan khas) kepada 20 jurnalis dari Kabupaten Mimika.
Setelah melatih selama dua hari, salah satu nara sumber yang adalah jurnalis senior dan praktisi media, Philipus Parera merasa sangat senang berkumpul bersama rekan-rekan jurnalis di sini.
Ia melihat semangat yang dimiliki oleh jurnalis di Mimika ini sungguh luar biasa.
“Dari obrolan yang kita jalin, saya melihat bahwa rekan-rekan memiliki pemahaman yang sangat luas mengenai apa yang terjadi di Papua, khususnya di Mimika,” ujar Philips (sapaan akrabnya), pada Selasa (14/7/2026) di Hotel Horison Diana Timika.
Philips menyebut, dari usulan-usulan topik fitur yang disampaikan, banyak hal yang menarik hal-hal yang bahkan di Jakarta belum pernah mendengarnya. Bahkan mungkin sebagian masyarakat di Mimika sendiri pun ada yang belum mengetahui, atau jika mengetahuinya belum menyadari betapa pentingnya hal tersebut.
Tiba-tiba kata Philips, muncul usulan tentang pelestarian dan tradisi membuat noken, hingga tradisi seni memahat.
Lalu ia pun baru mengetahui adanya dokter dari daerah ini yang terlibat dalam penelitian malaria, hingga sosok dokter terbang, dan masih banyak lainnya.
“Menurut saya, hal-hal tersebut sungguh luar biasa.Ke depannya, kiranya rekan-rekan dapat meluangkan waktu untuk menulis tentang orang-orang hebat yang ada di Mimika dan Papua,” jelasnya.
Lanjut Philips, tulisan semacam ini akan menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa di sini pun (Mimika) berdiri tokoh-tokoh hebat yang turut membangun negara ini.
Siapa tahu, lanjutnya, nantinya dari kisah-kisah mereka pun bisa lahir hal-hal bermanfaat lainnya.
“Itulah saran yang ingin saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan di Papua teruslah berkarya dengan semangat yang tak pernah padam,” ungkapnya.
Selanjutnya, dari pelatihan ini juga telah banyak berdiskusi mengenai algoritma dan dunia media yang bergerak semakin cepat.
Di tengah gempuran media sosial dan algoritma, jurnalis seringkali terdorong untuk menulis secara sederhana, menyajikan berita cepat dan pendek namun kurang mendalam.
“Menurut saya, mungkin saatnya setelah kegiatan ini kita perlahan melambat sejenak, agar kita tidak hanya sekadar menyampaikan kabar, namun juga mampu mengangkat hal-hal di balik berita yang sesungguhnya sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas,” katanya.
Melalui pelatihan ini, kami tentunya menantikan karya-karya jurnalistik dari rekan-rekan sekalian, yang niscaya akan menjadi tulisan yang menarik, bermanfaat, dan tentunya membawa kebaikan bagi masyarakat Papua.
Dalam kesempatan yang sama, VP Corporate Communication PT Freeport, Katri Krisnati melalui General Supt External Relations, M. Rizal mengatakan, bagi mereka, hubungan dengan media adalah sebuah kemitraan yang dibangun di atas landasan profesionalisme, rasa saling menghormati, serta komitmen bersama untuk menghadirkan informasi yang kredibel, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami meyakini bahwa komunikasi yang baik berakar dari informasi yang berkualitas hal ini tidak hanya memastikan masyarakat mendapatkan kebenaran, namun juga turut mendorong kemajuan pembangunan daerah,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, Rizal mengungkapkan jika tentunya PT Freeport menantikan karya-karya jurnalistik dari para jurnalis yang niscaya akan menjadi tulisan yang menarik, bermanfaat, dan tentunya membawa kebaikan bagi masyarakat Papua.
Untuk diketahui, pada pelatihan ini juga, selain Philipus Parera mantan Direktur Tempo Data Sains, hadir pula nafa sumber lain yakni Purwanti Diyah Prabandari selaku Managing Editor Tempo English, Dimas Ibrahim Head of Product Tempo Media Group dan Martha Warta Silaban sebagai Jurnalis Tempo. (Sitha)














