Timika (Suaramimika.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika mencatat, setidaknya hingga tahun 2025, jumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) meningkat hampir 130% dibandingkan tahun sebelumnya.
Bupati Mimika, Johannes Rettob menyampaikan, angka ini bukan sekadar angka ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat Kabupaten Mimika memiliki semangat, kemauan, dan kemampuan untuk berusaha dan meningkatkan taraf hidupnya.
“Kita diberkati dengan hasil bumi yang luar biasa, dengan sumber daya alam yang melimpah. Maka gunakanlah itu semua dengan kreativitas dan inovasi. Pemerintah tidak akan menyulitkan Bapak dan Ibu. silakan berkarya, berkreasi, dan berusaha membangun masa depan yang lebih baik bagi keluarga dan bagi daerah yang kita cintai ini,” jelas Bupati Rettob, Kamis (13/8/2026).
Dengan bertumbuhnya pelaku usaha, kata Rettob, kini kemudahan berusaha sudah ada di depan mata kita. Pelaku UMKM pun sudah mulai melangkah jauh tidak lagi hanya menunggu pembeli datang ke pasar, tetapi sudah melangkah ke pasar yang lebih luas.
“Bahkan, sudah ada ibu-ibu kita yang bergabung dan berjualan melalui Shopee, dan produknya kini sudah sampai ke luar negeri secara internasional,” ujarnya.
Kata Rettob, bukan hanya satu atau dua pelaku usaha saja. Saat ini, hampir 1.500 pelaku UMKM di Kabupaten Mimika yang telah tercatat sudah memanfaatkan sistem pemasaran secara daring.
“Ini adalah langkah yang sangat besar dan luar biasa sekali. Teruslah tingkatkan kreativitas Bapak dan Ibu sekalian. Sesuai dengan tema peringatan kita hari ini: “Agar UMKM Terkoneksi dan Naik Kelas” itulah arah yang harus kita tuju bersama,” ungkapnya.
Namun, di tengah kemajuan ini, jujur saja kata Rettob, ada satu hal yang sering membuat hati terasa sedih dan prihatin. Terkadang justru kita masyarakat sendiri yang belum sepenuhnya bangga dan mencintai karya sendiri.
Ketika ditawarkan produk atau makanan buatan anak bangsa, buatan warga lanjutnya, banyak yang belum mau menerima. Sebaliknya, lebih memilih yang terlihat mewah, yang bergaya luar negeri maunya makan steak, makanan Italia, dan sejenisnya.
Padahal yang di depan mata sambutnya, yang dibuat dengan tangan sendiri, dengan bahan terbaik dari tanah sendiri, justru yang paling layak kita banggakan dan kita dukung.
“Produk UMKM kita bukan barang kelas dua. Kualitasnya sudah teruji, rasanya sudah teruji, dan kini jangkauannya pun sudah sampai ke mancanegara dibuktikan dengan produk kita yang sudah terjual secara internasional. Kalau masyarakat luar negeri saja menghargai dan membeli produk kita, mengapa kita sendiri yang justru ragu dan malu menggunakannya?,” paparnya.
Untuk itulah, Rettob mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir. Ia mengajak agar bangga menggunakan produk sendiri dan bangga membeli karya tetangga. Setiap rupiah yang dibelanjakan untuk produk UMKM adalah investasi langsung untuk tetangga, keluarga dan untuk kemajuan ekonomi daerah sendiri.
“Dukungan inilah yang akan membuat mereka semakin percaya diri, semakin berinovasi, dan semakin mampu bersaing di panggung yang lebih luas lagi,” pungkasnya. (Sitha)














