Timika (suaramimika.com) – Tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika terus menunjukkan angka tinggi.
Saat ini telah melebihi 85 persen, bahkan pada waktu tertentu mencapai 100 persen karena lonjakan pasien yang tinggi.
Direktur RSUD Mimika, dr. Antonius Pasulu, Sp.THT-KL, M.Kes, pada Kamis (6/2/2026) mengatakan, dengan tingkat keterisian tempat tidur yang telah melebihi 85 artinya angka ini melebihi standar persentase yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Indikator BOR yang ideal pada rumah sakit adalah antara 60 sampai 85 persen. BOR kami sudah di atas 85 persen. Pada kondisi tertentu, seluruh tempat tidur terisi. Ini tentu berdampak pada pelayanan, dan kenyamanan pasien,” ujar Anton.
Kondisi ini menandakan tekanan serius pada layanan rawat inap, seiring meningkatnya jumlah pasien yang membutuhkan perawatan.
Hal ini mendorong manajemen RSUD Mimika, merencanakan pembangunan gedung rawat inap baru dengan kapasitas 123 tempat tidur untuk mengatasi keterbatasan kapasitas perawatan.
Tingginya BOR tersebut menjadi alasan utama RSUD Mimika, merencanakan pembangunan gedung rawat inap baru dengan kapasitas 123 tempat tidur.
Pembangunan direncanakan mulai Tahun 2026, dan dilakukan secara bertahap hingga Tahun 2028.
Anton menjelaskan, sepanjang tahun 2025 jumlah kunjungan pasien di RSUD Mimika mencapai 141.259 orang. Lonjakan kunjungan ini berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan tempat tidur rawat inap.
“Dengan BOR yang tinggi, ruang rawat inap menjadi sangat terbatas. Penambahan tempat tidur adalah kebutuhan mendesak agar rumah sakit tidak terus bekerja di ambang kapasitas maksimal,” jelasnya.
Menurutnya, BOR yang terlalu tinggi berpotensi memengaruhi kecepatan layanan medis, waktu tunggu pasien, serta kualitas perawatan secara keseluruhan. Karena itu, penambahan kapasitas tempat tidur diharapkan mampu menurunkan BOR ke angka ideal.
“Harapannya, setelah gedung baru beroperasi, BOR bisa lebih terkendali dan pelayanan kepada pasien menjadi lebih optimal,” pungkas Anton. (Sitha)




















