Timika (suaramimika.com) – Dinas Kesehatan Mimika telah melaksanakan tes malaria, yakni prosedur diagnostik untuk mendeteksi parasit Plasmodium dalam darah, umumnya melalui mikroskop (Gold standard) atau Rapid Diagnostic Test (RDT) kepada 1 juta orang di Tahun 2025.
Jumlah orang yang telah di tes malaria tahun lalu, mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2023 dan 2024.
Kepala Dinkes Mimika, Reynold Rizal Ubra, mengatakan pihaknya telah melakukan evaluasi, terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Tahun 2025. Untuk melihat permasalahan yang menjadi prioritas di daerah seperti malaria, HIV dan TBC.
Selain itu, evaluasi juga digelar untuk melihat indikator kinerja utama atau kunci.
Secara keseluruhan untuk permasalah lokal seperti malaria, diketahui adalah progres jumlah orang yang ditesting lebih dari 1 juta. Di Tahun 2024 hanya di angka 700 orang, dan di tahun 2023 hanya 500 orang.
“Jadi kenaikannya (Orang yang ditesting malaria) jika dibandingkan dalam tiga tahun terakhir itu, kenaikannya sampai tiga kali dengan jumlah kasus malaria ada di 188 ribu,” ujar Reynold.
Walaupun terjadi peningkatan kasus malaria tahun lalu kata Reynold, sudah diperkirakan adanya kasus malaria setiap tahun sekitar 150 ribu sampai 188 ribu dan maksimal 200 ribu dan itu tidak terjadi.
“Sehingga positive rate atau presentasi kasus malaria itu, mengalami penurunan dari 22 persen di tahun 2024 menjadi 15 persen di tahun 2025,” jelas Reynold.
Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Mimika, untuk menangani kasus malaria yakni deteksi dan pengobatan.
Di tahun ini lanjutnya, Dinas Kesehatan akan mempercepat upaya testing, pengobatan sesuai standar dan pengendalian vektor.
“Kami di tahun lalu itu mencoba pengendalian vektor, bagaimana tempat perindukan nyamuk itu betul-betul dikontrol dengan mengajak masyarakat berpartisipasi,” ungkapnya.
Lanjutnya, untuk pengendalian vektor, tahun lalu Dinkes bekerjasama dengan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (Hakli) Cabang Mimika, program tersebut dilakukan di beberapa RT Kelurahan Kamoro Jaya.
Program ini juga terintegrasi dengan kegiatan Clean Friday, atau Jumat bersih yang sangat berdampak positif.
Selanjutnya, para ibu hamil diberikan obat pencegahan atau terapi yang ternyata bisa terlindung delapan sampai sembilan kali dari sakit malaria.
“Ibu-ibu hamil diberikan terapi pencegahan dan ternyata yang mengikuti program ini bisa terlindungi sampai delapan sembilan kali dibandingkan ibu-ibu yang tidak mengikuti terapi pencegahan dan terlindung dari sakit malaria,” papar Reynold. (Sitha)


















