Timika (Suaramimika.com) – Bupati Mimika Johannes Rettob menekankan penting edukasi kepada masyarakat mengenai kepatuhan konsumsi obat hingga tuntas.
Pentingnya edukasi untuk mengkonsumsi obat hingga tuntas ini diungkapkan Bupati Rettob jelang peringatan Hari Malaria Sedunia yang jatuh pada 25 April besok.
Selain kepatuhan untuk meminum obat malaria sampai tuntas, Bupati Rettob juga mengungkapkan mengungkapkan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika untuk mengeliminasi malaria.
Di mana, komitmen ini telah berjalan lama melalui sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah provinsi.
“Tahun lalu kami bersama provinsi telah mencanangkan komitmen eliminasi. Target kami jelas, pada tahun 2030 setidaknya kita bisa menurunkan angka malaria hingga 5 persen,” ujar Bupati Rettob, Jumat (24/4/2026).
Pemkab Mimika telah menjalankan berbagai program strategis dalam rangka mencapai komitmen untuk penuntasan dan eliminasi malaria.
Kata Bupati Rettob, beberapa hal telah dilakukan yakni membentuk kader malaria atau kelompok masyarakat sadar bahaya malaria. Juga memastikan ketersediaan stok obat-obatan malaria serta terus mengedukasi penggunaan kelambu serta metode pencegahan lainnya.
Dari semua aspek ini, tambahnya, yang paling utama untuk penuntasan malaria adalah edukasi kepada masyarakat agar meminum obat malaria sampai tuntas.
“Namun, yang paling krusial adalah mengedukasi masyarakat untuk minum obat sampai habis. Sering kali pasien berhenti minum obat sebelum waktunya, padahal pengobatan harus tuntas untuk mencegah kekambuhan dan resistensi,” ungkapnya.
Selain dari sisi medis tamba Rettob, pihaknya juga menyediakan infrastruktur penunjang kesehatan lingkungan dengan melakukan pembenahan saluran drainase untuk menghilangkan genangan air yang menjadi sarang nyamuk.
Sementara itu, ketika ditanya soal data kasus malaria terkini di Mimika, ia belum bersedia memaparkan angka pasti karena adanya proses sinkronisasi data.
Hal ini kata dia, terjadi karena di tahun-tahun yang lalu sempat terjadi kekeliruan akibat pendataan ganda dari pasien malaria di fasilitas kesehatan.
“Ada kekeliruan di mana satu pasien tercatat berkali-kali. Misalnya, pasien periksa di satu Puskesmas, lalu karena satu hal dia pindah ke Puskesmas lain dan tercatat sebagai kasus baru. Padahal orang yang sama. Hal ini yang sedang kami perbaiki agar datanya valid,” katanya.
Selanjutnya, jika proses validasi data ini selesai dan valid, tambahnya, potret keberhasilan eliminasi malaria di Mimika tentu akan terlihat lebih nyata.
“Bisa jadi progres eliminasi kita sebenarnya sudah berjalan baik, tapi karena pendataan yang belum rapi maka angkanya masih terlihat tinggi,” pungkas Rettob. (Sitha)















