Kesehatan

Upaya Pencegahan Penyebab Utama Kematian Ibu dan Bayi, Dinkes Mimika Adakan Pertemuan Evaluasi

×

Upaya Pencegahan Penyebab Utama Kematian Ibu dan Bayi, Dinkes Mimika Adakan Pertemuan Evaluasi

Sebarkan artikel ini
Foto bersama Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinkes, Nelly Pangaribuan dengan Direktur RSUD, perwakilan RSMM, Kepala Puskesmas dan Bidan Koordinator disela-sela pertemuan evaluasi, Kamis (11/6/2026).

Timika (Suaramimika.com) – Dinas Kesehatan melakukan kegiatan pertemuan evaluasi pencegahan dan penanganan penyebab utama kematian ibu dan bayi di Puskesmas dan rumah sakit.

Pertemuan evaluasi yang diikuti oleh Direktur RSUD, perwakilan RSMM, Kepala Puskesmas, Bidan Koordinator pelayanan maternal dan neonatal ini berlangsung di Ruang Otomona Hotel Grandtembaga, Kamis (11/6/2026).

Ads

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinkes, Nelly Pangaribuan mengatakan, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi dari negara-negara ASEAN. Berdasarkan Long Form SP tahun 2020 AKI di Indonesia 189 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 16,85 per 1000 kelahiran hidup.

Angka tersebut masih jauh dari target SDGs yaitu Angka Kematian Ibu (AKI) 70 dan Angka Kematian Bayi (AKB) 12 pada tahun 2030.

Target penurunan rata-rata pertahun 5,6% untuk mencapai SDGs di tahun 2030 sehingga diperlukan upaya terobosan, inovasi ataupun strategi percepatan agar target tersebut dapat dicapai.

Sementara itu, di Kabupaten Mimika pada tahun 2025 AKI 304 per 100.000 KH, AKB 11 per 1000 KH.

Berdasarkan data dan permasalahan tersebut kata Nelly, pihaknya menggelar evaluasi hari ini.

“Evaluasi ini untuk memperoleh gambaran permasalahan yang terjadi, baik dari aspek medis maupun nonmedis, sehingga dapat disusun langkah perbaikan pelayanan yang lebih efektif dan berkelanjutan,” jelas Nelly.

Evaluasi digelar dengan tujuan untuk mengetahui faktor penyebab dan faktor risiko terjadinya kematian ibu dan bayi di fasilitas pelayanan kesehatan guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.

Kemudian, mengidentifikasi penyebab langsung dan tidak langsung kematian ibu dan bayi, menilai kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi di puskesmas dan rumah sakit.

Selanjutnya untuk mengetahui keterlambatan penanganan kasus melalui analisis “3 terlambat” yakni terlambat mengambil keputusan,terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat mendapatkan pelayanan dan dapat mengevaluasi kepatuhan tenaga kesehatan terhadap standar operasional prosedur (SOP).

Melalui pertemuan evaluasi ini juga Nelly berharap para tenaga kesehatan dapat mengetahui faktor penyebab dan faktor risiko terjadinya kematian ibu dan bayi di fasilitas pelayanan kesehatan guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.

Kata Nelly, para tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi faktor sarana, prasarana, obat, alat, dan sistem rujukan yang berkontribusi terhadap kematian ibu dan bayi, mengetahui faktor sosial, ekonomi, budaya, dan perilaku keluarga yang memengaruhi kejadian kematian.

Terakhir para tenaga kesehatan dapat menyusun rekomendasi perbaikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi berdasarkan hasil evaluasi dan terakhir untuk meningkatkan koordinasi antara Puskesmas, rumah sakit, dan jejaring rujukan dalam penanganan kasus maternal dan neonatal. (Sitha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *