Timika (Suaramimika.com) — Direktur RSUD Kabupaten Mimika, dr. Faustina Helena Burdam, M.P.H., membuka rangkaian kegiatan Pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) di Ruang Edelweis, RSUD Mimika, pada Selasa (15/9/2026).
Bekerja sama dengan Lembaga Diklat Profesi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Mimika, pelatihan akan berlangsung sampai 24 September 2026 mendatang. Pelatihan selama 10 hari ini, diikuti oleh 15 bidan.
Dalam sambutannya, dr. Faustina menyoroti kekhasan kondisi pelayanan kesehatan di Papua yang memiliki dinamika tersendiri, mulai dari faktor budaya hingga tantangan akses di wilayah pesisir dan pedalaman.

Meski pelatihan mencakup penanganan komplikasi klinis imunologi di lingkungan rumah sakit, dr. Faustina mengingatkan agar persalinan normal tetap diutamakan selama masih memungkinkan untuk dilakukan.
“Bidan diharapkan mampu menjadi ujung tombak penyelamat nyawa dengan memperkuat kerja sama tim bersama dokter spesialis kandungan, dokter spesialis anak, serta tenaga kesehatan lainnya demi keselamatan ibu dan bayi,” ujar dr. Faustina.
Bagi bidan yang bertugas di RSUD, jelas dr. Faustina, kolaborasi lintas profesi harus terus ditingkatkan. Sementara bagi yang bertugas di Puskesmas, distrik, pesisir, hingga pedalaman, diharapkan menjadi tenaga yang bijaksana dalam menerapkan ilmu secara tepat waktu dan sasaran guna menekan angka kematian ibu dan anak (AKI/AKB) di Kabupaten Mimika.
Lebih lanjut, dr. Faustina mengatakan jika APN adalah asuhan yang di berikan kepada ibu selama proses persalinan secara aman, bersih sesuai standar untuk mencegah komplikasi dan memastikan ibu dan bayi dalam keadaan baik, Fokus Asuhan Persalinan adalah kualitas pelayanan, kepuasan pasien, mencegah komplikasi, dan keselamatan ibu – bayi (patient’s safety).
Kebutuhan Asuhan Persalinan adalah menjaga kelangsungan hidup, dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya.
Sehingga melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi minimal maka prinsip keamanan dan kualitas pelayanan Pelatihan Asuhan Persalinan Normal, menjadi acuan penerapan di lapangan dan elemen dasar untuk menjamin kualitas pelayanan kebidanan dalam memberikan asuhan esensial bagi ibu bersalin dan bayi baru lahir serta penatalaksanaan komplikasi segera pasca persalinan dan nifas, ibu bersalin dan bayi baru lahir.
Setelah mengikuti pelatihan, peserta mampu melakukan asuhan persalinan normal berdasarkan kewenangannya di fasilitas pelayanan kesehatan sesuai standar.
dr. Faustina menambahkan, pelatihan mampu menerapkan Konsep Lima Benang Merah dalam Asuhan Persalinan Normal, melakukan Asuhan kala I Persalinan, melakukan penilaian kemajuan kala I Persalinan dengan partograf.
Kemudian Asuhan kala II Persalinan, melakukan Asuhan kala III Persalinan, melakukan Asuhan kala IV Persalinan, melakukan Asuhan bayi baru lahir dan melakukan Asuhan bayi baru lahir dengan asfiksia.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (PP IBI), Dr. Ade Jubaedah, S.SiT, MM, MKM mengapresiasi pelatihan APN yang diselenggarakan oleh RSUD Mimika ini.
“Keselamatan ibu dan bayi adalah tanggung jawab bersama, bukan satu profesi saja. Apresiasi tinggi untuk kolaborasi RSUD Mimika dan IBI Cabang Mimika. Kemitraan ini wajib terus diperkuat untuk penguatan profesi, kompetensi, etika, dan pengembangan berkelanjutan bidan,” ungkapnya.
Ketika organisasi profesi, rumah sakit, pemerintah daerah, dokter spesialis, bidan, dan seluruh tenaga kesehatan bergerak satu irama, tambah Dr. Ade, maka terbangunlah ekosistem pelayanan kesehatan ibu dan anak yang kokoh, responsif, dan berdaya saing khususnya di tanah Papua dengan segala tantangan geografis, akses, dan keterbatasan sumber daya yang ada.
“Jangan ikut pelatihan ini hanya demi mendapatkan sertifikat. Pelatihan APN adalah investasi nyata untuk menyelamatkan nyawa. Satu keterampilan yang benar menyelamatkan satu ibu dan satu bayi. Satu keputusan klinis yang tepat menyelamatkan dua nyawa sekaligus,” katanya.
Kompetensi bidan yang handal sebut Dr. Ade, berdampak pada ribuan perempuan, bayi, dan keluarga di Kabupaten Mimika.
“Jadikan ilmu ini sebagai amal ibadah dan pengabdian tulus untuk negeri tercinta,” pungkasnya. (Sitha)











