Kabar Mimika

Jauh Diatas Rata-rata Nasional : Sebaran Anti Biotik di Papua Tengah Hanya 20 Persen

×

Jauh Diatas Rata-rata Nasional : Sebaran Anti Biotik di Papua Tengah Hanya 20 Persen

Sebarkan artikel ini
Rudolf Surya Panduwinata Bonya.

Timika (suaramimika.com) – Secara nasional penyebaran anti biotik tanpa resep dokter sebesar 70 persen. 70 persen apotik di Indonesia secara garis besar masih menyerahkan anti biotik tanpa resep dokter. Namun di Papua Tengah, penyebaran anti biotik tanpa resep dokter hanya berkisar di angka 20 persen.

Kepala Loka POM di Kabupaten Mimika, Rudolf Surya Panduwinata Bonya, S.Si, Kamis (20/11/2025) mengatakan, angka penyebaran anti biotik di Papua Tengah dibawah rata-rata nasional.

“Rata-rata di tingkat nasional penyebaran anti biotik tanpa resep dokter itu 70 persen. Bahkan ada daerah yang sampai 90 persen. Di Papua Tengah, hanya 20 persen saja anti biotik keluar tanpa resep dokter,” ujar Rudolf.

BPOM kata Rudolf, memberikan apresiasi kepada para apoteker, apotik dan didukung oleh pengawasan yang dilakukan oleh BPOM.

Agar anti biotik ini dapat digunakan sesuai dengan ketentuan dan tidak lagi disebarkan tanpa resep dokter, ia berharap terus adanya kerja sama dari pihak apotik, tenaga apoteker untuk dapat melakukan pengawasan. Pihak terkait ini sebutnya, harus tetap mengeluarkan anti biotik dengan resep dokter.

“Kami meminta kerja samanya dari penanggung jawab apotik dan apoteker serta lintas terkait untuk bisa melakukan pengawasan dan melayani pemberian anti biotik dengan resep dokter,” ungkapnya.

Jika anti biotik diberikan tanpa resep dokter jelasnya, akan menimbulkan masalah dan efeknya akan meluas. Jika kuman semakin resisten maka akan berpengaruh kepada semua pihak. Artinya ketika akan mengobati sebuah penyakit, maka akan lebih sulit lagi karena harus menggunakan anti biotik yang lebih tinggi. Dan kalau anti biotik yang kelasnya lebih tinggi lagi namun sudah resisten, maka akan menjadi wabah atau silent pandemic.

Resistensi antibiotik sendiri adalah kondisi ketika bakteri berubah dan menjadi kebal terhadap antibiotik, sehingga obat tersebut tidak lagi efektif untuk membunuh atau menghentikan pertumbuhannya. Hal ini dapat menyebabkan infeksi menjadi lebih sulit diobati, bahkan bisa berakibat fatal.

“Jika anti biotik yang kelasnya lebih tinggi dan resisten maka akan menjadi wabah dan ini sangat berbahaya bagi manusia,” pungkasnya. (Sitha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *