Timika (Suaramimika.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, terus berupaya untuk menurunkan angka kematian anak.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar pertemuan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), di ruang Kamora, Hotel Grand Tembaga, pada Selasa (9/6/1026).
Pertemuan MTBS diikuti oleh petugas kesehatan dari 26 Puskemas dan klinik swasta di Timika, dan nara sumber dokter anak yakni dr. Gustian Rante Tiballa, SpA.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinkes Mimika, Nelly Pangaribuan mengatakan, pertemuan MTBS ini untuk memperkuat layanan kesehatan anak usia di bawah lima tahun.
Program ini kata dia, menargetkan penurunan angka kematian balita akibat pneumonia, diare, sakit telinga, dan demam.
“Harapan kami kegiatan ini dapat berjalan dengan baik, karena kita melibatkan 26 Puskemas dan juga Klinik Swasta. MTBS ini sangat baik, kita tegaskan agar dapat memperkuat layanan kesehatan anak,” ujar Nelly.
Dengan adanya pertemuan MTBS ini kata Nelly, setiap Puskesmas dapat memperbaiki kualitas data dan mengisi data kesehatan anak dengan bagan MTBS yang telah ditetapkan.
“Ini kesempatan yang sangat baik, mari kita serap ilmu yang diberikan dokter dengan baik, bertanya kalau tidak mengerti. Saya harap kegiatan ini, dapat memperbaiki kualitas pelayanan Puskesmas,” jelas Nelly.
MTBS lanjut Nelly, adalah senjata terdepan di FKTP untuk menekan angka kematian bayi dan balita.
Dengan adanya tantangan geografis Mimika dari pesisir hingga pegunungan ungkapnya, tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menerapkan pelayanan MTBS di 26 puskesmas.
Dengan tujuan utama MTBS adalah mendekatkan layanan berkualitas di tempat yang ketersediaan dokter masih terbatas, Nelly berharap agar peserta kegiatan ini dapat mengikuti pemaparan dari Dokter Spesialis Anak, dr. Gusti dengan baik.
“Harapan kami dari Dinas Kesehatan, mari ikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh agar 26 Puskesmas dapat menerapkan pelayanan MTBS dengan baik,” harapnya.
Ia uga menekankan ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan yakni perbaiki kualitas data, yakni memastikan setiap balita sakit dicatat lengkap sesuai alur MTBS.
Selanjutnya, taat pada protokol klinis dengan menggunakan buku panduan MTBS yang akan dibahas bersama narasumber.
“Mohon fokus sepenuhnya. Para dokter dan penanggung jawab program agar aktif berdiskusi dan menanyakan kendala, serta kasus sulit yang sering ditemukan di lapangan,” pungkas Nelly. (Sitha)















