Kabar Mimika

Forum Konsultasi Publik Bapenda Mimika Dari Masa Ke Masa : Bahas Tantangan, Dinamika, dan Strategi Pengelolaan Pendapatan Daerah

×

Forum Konsultasi Publik Bapenda Mimika Dari Masa Ke Masa : Bahas Tantangan, Dinamika, dan Strategi Pengelolaan Pendapatan Daerah

Sebarkan artikel ini
Foto bersama usai forum konsultasi publik Bapenda Mimika dari masa ke masa, Jumat (31/7/2026)

Timika (Suaramimika.com) – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mimika menggelar forum konsultasi publik dari masa ke masa.
Dengan tema: “Tantangan, Dinamika, dan Strategi Pengelolaan Pendapatan Daerah yang Akuntabel, Pruden dan Berdampak”, forum konsultasi berlangsung pada
Jumat (31/7/2026) di Lantai III Ruang Pertemuan Kantor Bapenda.

Yang menarik pada forum konsultasi publik ini, dihadirkan para mantan kepala Bapenda dimulai dari Petrus Yumte, Cherly Lumenta, Paulus Yanengga sampai Dwi Cholifah yang memberikan dukungan sekaligus menceritakan kisah mereka selama memimpin dinas yang melakukan pengelolaan, pendataan, dan pemungutan pendapatan serta pajak daerah.

Ads

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setda Mimika, Petrus Pali Amba mengapresiqsi forum konsultasi ini karena ajang untuk mempererat tali silaturahmi antar Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah dari masa ke masa, serta memperkuat sinergi antar generasi pimpinan.

“Kegiatan ini sangat penting bagi kita semua untuk merenungkan langkah yang telah ditempuh, sekaligus menyusun langkah ke depan,” ujar Petrus.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bapenda Slamet Sutejo menyebut jika perjalanan kepemimpinan ini adalah sebuah estafet. Ada pepatah kata Slamet, mengatakan setiap masa ada pemimpinnya, dan setiap pemimpin ada masanya. Namun satu hal yang tidak boleh terjadi benang itu tidak boleh terputus.

“Janganlah yang baru datang merasa paling mampu, dan jangan pula yang lama merasa tidak relevan,” katanya.

Sejak ia masuk ke Bapenda, Slamet menyadari kebenaran ini membutuhkan pengalaman panjang para senior, yang mungkin tidak terbiasa dengan sistem digital namun memahami seluk-beluk akar persoalan di saat yang sama kita juga membutuhkan kecepatan dan ketangkasan yang dituntut oleh perkembangan zaman.

Semua kekuatan ini harus kemudian dirangkum menjadi satu. Demikian pula halnya dengan penguasaan literasi hukum, literasi pendapatan, hingga perubahan pola pikir.

Tantangan yang dihadapi luar biasa besar. Dulu, di masa Bapak Paulus dan para pendahulu lainnya, anggaran daerah jelas Slamet, mungkin baru puluhan miliar rupiah.

“Bayangkan dari angka 80 miliar, kini kita berbicara dalam satuan triliun. Intinya sederhana, ketika nilainya besar, dampaknya harus terasa nyata bagi masyarakat,” katanya.

Salah satu mantan Kepala Bapenda, Dwi Cholifah mengajak kepada para pegawai Bapenda untuk senantiasa membangun koordinasi yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan.

Kepada kepala badan, Dwi berharap agar dapat memastikan dapat terus menjalin komunikasi dengan BPN, KPP Pratama, kalangan notaris dan PT Freeport Indonesia dengan pertemuan rutin.

Selain itu, tidak ketinggalan pula dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan instansi terkait lainnya. Koordinasi ini tambahnya, bisa dilakukan secara formal maupun melalui pembicaraan-pembicaraan santai yang menyatukan pandangan.

Dwi mengaku jika ia menyerahkan amanah memimpin Bapenda ini di tengah kondisi perhitungan yang menunjukkan angka defisit yang cukup besar.

Artinya, dalam kondisi defisit ini, harus melakukan efisiensi belanja sekaligus terus mencari sumber pendapatan tambahan.

“Oleh sebab itu, kita tidak boleh bekerja sendiri-sendiri, melainkan harus tetap bergerak sebagai satu kesatuan yang terorganisir ke depannya,” pungkas Dwi. (Sitha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *