Kabar Mimika

Terbentur Defisit APBD, Dinsos Mimika Lobi Bappeda Tambah Anggaran Bencana 2027 Pasca Stok Logistik Habis

×

Terbentur Defisit APBD, Dinsos Mimika Lobi Bappeda Tambah Anggaran Bencana 2027 Pasca Stok Logistik Habis

Sebarkan artikel ini
Yohanes Kum

Timika (Suaramimika.com) — Tingginya intensitas musibah yang melanda Kabupaten Mimika sepanjang tahun 2026 berdampak signifikan pada ketersediaan logistik darurat.

Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mimika mengonfirmasi bahwa seluruh pasokan bahan makanan (bama) untuk korban bencana dan krisis kemanusiaan saat ini dalam kondisi kosong.

Ads

Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinsos Mimika, Yohanes Kum menyampaikan, serangkaian peristiwa mulai dari musibah kebakaran hingga bencana alam di berbagai wilayah telah menguras habis alokasi bantuan yang dipersiapkan.

“Stok bahan makanan untuk bantuan sudah kosong karena tahun ini terjadi banyak musibah, mulai dari kebakaran hingga bencana alam lainnya,” kata Yohanes saat ditemui di Gedung Bobaigo, Kantor Keuskupan Mimika, Kamis (22/10/2026).

Upaya Dinsos untuk melakukan pengadaan ulang logistik darurat dalam waktu dekat menemui kendala. Kebijakan efisiensi dan penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) akibat defisit anggaran dari pemerintah pusat membuat ruang gerak pengadaan barang menjadi sangat terbatas.

Padahal, pada tahun anggaran 2026, Dinsos Mimika mengelola dana penanggulangan bencana sebesar Rp2 miliar yang diperuntukkan bagi penyaluran bantuan sosial serta aksi kemanusiaan.

Menyikapi keterbatasan ini, Dinsos bergerak cepat dengan membangun koordinasi intensif bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mimika. Langkah ini diambil guna memperjuangkan kenaikan alokasi anggaran penanganan bencana pada APBD 2027.

“Anggaran tahun ini hanya Rp2 miliar. Kami berkoordinasi dengan Bappeda untuk pengusulan penambahan anggaran pada 2027. Soal bantuan bencana dan kemanusiaan, masyarakat bertumpu pada Dinas Sosial,” tegas Yohanes.

Ia menambahkan, tambahan alokasi dana di tahun depan sangat krusial untuk memperkuat kesiapan Lumbung Sosial Mimika, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti beras, bahan pangan, hingga pakaian layak pakai.

Yohanes menjelaskan bahwa Kabupaten Mimika memiliki lanskap geografis yang sangat kompleks, terbentang dari kawasan pegunungan tinggi hingga wilayah pesisir. Kondisi ini menuntut kesiapan logistik yang selalu siaga mengingat tingginya potensi bencana alam. Wilayah pegunungan sangat rawan musibah tanah longsor, sedangkan kawasan pesisir rentan dilanda kekeringan dan cuaca ekstrem.

Sepanjang 2026, Dinsos Mimika mencatat telah mendistribusikan puluhan ton bantuan ke titik-titik bencana.

Untuk wilayah terisolasi seperti Kampung Banti, Tsinga, Nosolanop, dan Beanek yang terdampak longsor, pengiriman logistik harus ditempuh melalui jalur udara bekerja sama dengan Government Relations PT Freeport Indonesia.
Selain fokus pada bencana alam, Dinsos Mimika juga aktif merespons krisis kemanusiaan.

Salah satu penanganan prioritas yang telah dilakukan adalah penyaluran bantuan pangan bagi warga Distrik Jila, yang sempat mengalami keterbatasan akses berkebun akibat gangguan keamanan pascainsiden penembakan. (Sitha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *