Timika (Suaramimika.com) — Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif resmi menggelar pelatihan peningkatan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia kesenian tradisional. Kegiatan ini dilaksanakan di Ballroom Hotel Grand Tembaga, Timika, dan berlangsung selama lima hari pada 22 hingga 26 September 2026.
Kegiatan ini melibatkan 100 peserta dari berbagai wilayah dengan fokus utama pada guru seni tingkat SMP, SMA, dan SMK.
Dengan dukungan anggaran Rp600 juta, acara ini menyatukan para guru seni dan pelaku budaya untuk memperkuat keterampilan dalam bidang anyaman, mahkota adat, ukiran, noken, hingga tenun, sekaligus menjadikan sekolah sebagai ruang utama pelestarian budaya lokal.
Sambutan Bupati Mimika yang dibacakan oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Santi Sondang, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa kekayaan budaya Mimika berupa anyaman, mahkota adat, ukiran, noken, hingga tenun bukan sekadar karya seni, melainkan identitas dan warisan luhur yang harus dijaga bersama.
“Upaya pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan lewat pendidikan, pelatihan, dan transfer pengetahuan berkelanjutan,” ujar Santi saat membuka kegiatan, Selasa (22/9/2026).
Ia menjelaskan, pelatihan yang berlangsung selama lima hari ini didukung anggaran sebesar Rp600 juta. Dana tersebut digunakan untuk penyediaan bahan baku berkualitas, sarana pendukung, serta menghadirkan narasumber ahli dari Jayapura.
Para peserta mendapatkan pembekalan keterampilan mulai dari pembuatan noken, anyaman, mahkota adat, ukiran, hingga tenun tradisional.
Pihaknya juga menekankan pentingnya peran guru seni sebagai agen pelestarian budaya di sekolah.
“Ilmu yang diperoleh jangan berhenti setelah pelatihan selesai. Ajarkan kepada siswa, praktikkan bersama, dan jadikan bagian dari proses menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal,” pesannya.
Selain meningkatkan kompetensi teknis, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan wirausahawan baru di sektor ekonomi kreatif, menjaga orisinalitas motif adat, sekaligus memperkuat daya saing karya seni Mimika di pasar modern.
“Mari kita jadikan pelatihan ini sebagai momentum memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal, meningkatkan keterampilan SDM, serta memastikan warisan budaya Mimika tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya. (Sitha)














