Timika (Suaramimika.com) – Letak geografis tidak menjadi penghalang bagi pelayanan kesehatan di wilayah dataran tinggi, dengan ketinggian mencapai 2.800 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Komitmen ini ditunjukkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika bersama Puskesmas Alama, Distrik Alama, Provinsi Papua Tengah.
Kepala Puskesmas Alama, Saulus Pokniangge mengatakan, walaupun berada di pedalaman yang hanya dapat ditempuh menggunakan pesawat perintis, namun pelayanan kesehatan yang dilakukan berjalan baik, aman dan terkendali.
“Masyarakat merespon sangat antusias, dan mendukung kehadiran tenaga kesehatan,” ujar Saulus, pada Selasa (30/6/2026).
Kata Saulus, sesuai standar Kementerian Kesehatan, Puskesmas Alama didukung oleh 9 tenaga kesehatan yakni mulai dari dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga gizi, dan apoteker dan tenaga penunjang medis lainnya.
Para tenaga kesehatan ini kata Saulus, melakukan pelayanan yang mencakup penanganan ibu hamil berisiko tinggi, perawatan, dan penjahitan luka serta penyuluhan dan promosi kesehatan secara menyeluruh.
Pelayanan juga dilengkapi dengan kegiatan Puskesmas Keliling Jalan Kaki (Pusjaki) yakni kunjungan dari rumah ke rumah, untuk menjangkau wilayah terpencil.
Para petugas kesehatan lanjutnya, paling banyak menemukan penyakit saluran pernapasan akut atau ISPA.
Sementara untuk penyakit lain seperti malaria, wilayah Alama bebas malaria karena nyamuk yang ada hanya jenis hutan, bukan pembawa bibit penyakit.
Walaupun bebas dari malaria, namun tetap ditemukan adanya kasus akan tetapi kasus ditemukan dari warga yang datang dari luar.
“Kasus yang ditemukan berasal dari luar (Terutama Timika) disebut malaria impor,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi malaria, ada prosedur standar atau SOP yakni seluruh penumpang yang datang dari Timika, atau bergerak ke kampung pedalaman wajib diskrining malaria di Puskesmas Alama terlebih dahulu.
“Jika bebas penyakit baru diperbolehkan melanjutkan perjalanan guna mencegah penyebaran ke wilayah tanpa tenaga kesehatan dan akses sulit,” katanya.
Sementara itu, untuk terus melakukan pelayanan, Puskesmas menggunakan sistim tugas dengan shift atau pergantian petugas.
Pergantian petugas dilaksanakan secara bergeser, atau jadwal giliran. Masa tugas rata‑rata 1 bulan (maksimal hingga 2 bulan), disesuaikan ketersediaan logistik obat dan bahan makanan.
Pergantian petugas berikutnya lanjut Saulus, pada Tanggal 16 Juli 2026.
Agar pelayanan berjalan terus menerus, Saulus berharap transportasi udara bisa selalu tersedia. Penerbangan dilakukan dengan menggunakan Pesawat Bunga Persada (Kapasitas 6 sampai 8 orang termasuk pilot, batas muatan per orang ± 50 kg).
Ia berharap subsidi dan layanan transportasi udara tetap berjalan lancar dan terjamin, karena merupakan kunci utama kelangsungan pasokan serta pergantian petugas agar pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap optimal.
“Kami harap bisa terus didukung subsidi pemerintah karena harga tiket terjangkau dengan pembiayaan sebagian dari Dana Operasional Puskesmas, sebagian bantuan Dinas Kesehatan,” pungkasnya. (Sitha)
















