Timika (Suaramimika.com) – Distrik Mimika Baru mengumpulkan perwakilan kader malaria dari 11 kelurahan, dalam upaya memperkuat intervensi malaria berbasis komunitas. Para kader malaria ini berkumpul di Kantor Distrik Mimika Baru, Jumat (21/8/2026).
Dikumpulkannya kader malaria tersebut sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran Bupati Mimika nomor 50 Tahun 2026 mengenai Percepatan Eliminasi Malaria melalui gerakan lintas sektor di Kabupaten Mimika.
Distrik Mimika baru sendiri tercatat sebagai distrik dengan kasus tertinggi di Kabupaten Mimika dengan kasus malaria dari Januari – pertengah Juli mencapai 39.532 kasus.
Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun menyampaikan, tujuan dari pertemuan ini adalah bagaimana perlunya upaya menekan kasus malaria di Mimika Baru melalui intervensi semua pihak.
Upaya yang ditempuh salah satunya dengan memperkuat kader malaria sebagai penggerak utama malaria di kampung dan kelurahan, untuk kader di Kampung nanti akan diakomodir melalui Dana Desa.
”Tercatat total ada 109 kader malaria dari 11 kelurahan dan 3 kampung di Mimika baru. Untuk segmen ini kami upayakan kader malaria kelurahan mendapatkan pembiayaan dalam bentuk biaya transport di dilapangan, nanti kami coba ajukan di APBD perubahan, sedangkan untuk kader di Kampung informasi dari Kabid DPMK akan masuk dalam alokasi Dana Desa” ujar Merlyn.
Merlyn menjelaskan bahwa keberadaan kader malaria sangat membantu petugas kesehatan dalam upaya penurunan kasus malaria berbasis masyarakat di wilayahnya masing–masing, maka perlu ada dukungan penuh dari pemerintah agar kinerja kader dapat ditunjang sehingga dapat lebih maksimal dalam intervensi malaria.
”Selama ini, kader malaria hanya mendapatkan insentif dari Perdhaki, apa lagi berdasarkan informasi yang disampaikan kader ada pemotongan disebabkan efesiensi dari Perdhaki pusat, disisi lain beban kasus malaria masih sangat tinggi di wilayah Mimika Baru ini” jelas Merlyn.
Merlyn berharap usulan dukungan untuk penguatan kinerja kader ini dapat disetujui nanti di APBD perubahan nantinya, tentu harapannya jika disetujui nanti kinerja kader bisa lebih ditingkatkan. Beberapa kebutuhan kader malaria dilapangan seperti timbangan, sarung tangan dan masker tidak bisa diajukan melalui distrik, tapi dari Instansi teknis.
”Kader menyampaikan kondisi dilapangan, kesulitan dalam melakukan Pemantauan Minum Obat (PMO) untuk warga yang positif malaria, saat intervensi vektor dan melakukan edukasi pada masyarakat. Tentu dengan dukungan ini nanti Kader bisa melakukan pemeriksaan malaria pada warga diluar kewajiban dari Perdhaki, melakukan PMO dan kembali aktif melakukan survei dan intervensi jentik malaria” ungkap Merlyn.
Sementara itu, konsultan Malaria UNICEF Papua tengah Timika Nabire Yulizar Kasma mengapresiasi langkah dari Kepala Distrik Mimika Baru yang akan memperkuat keberadaan kader malaria di 11 kelurahan wilayah Distrik Mimika Baru.
Menurut Yulizar Kasma langkah ini akan meningkatkan semangat kerja dilapangan untuk melakukan PMO pada pasien malaria, intervensi vektor dan meningkatkan kembali pemeriksaan malaria.
”Dalah satu penyebab kenapa rantai penularan kasus malaria tidak selesai, karna warga yang positif malaria tidak minum obat sampai tuntas, sehingga potensi kambuh kembali dan menularkan kepada orang Lain, untuk itu pemantauan yang lebih masif perlu kembali dilakukan,” katanya.
Untuk diketahui, selain perwakilan kader dari 11 Kelurahan, juga hadir dalam pertemuan itu dari penyuluh agama Kementrian Agama Mimika, dari UPTD malaria Center, Staf Distrik Mimika baru dan UNICEF. (Sitha)














