Religi

Tabligh Akbar Habib Jafar, Bupati Mimika Pesan Warga Resapi Tausiah dan Jaga Harmoni

×

Tabligh Akbar Habib Jafar, Bupati Mimika Pesan Warga Resapi Tausiah dan Jaga Harmoni

Sebarkan artikel ini
Bupati Mimika, Johannes Rettob saat membuka tabligh akbar Habib Husain Bin Jafar Al Hadar.

Timika (Suaramimika.com) — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Mimika menggelar Tabligh Akbar bersama penceramah ternama, Habib Husain Bin Jafar Al Hadar, di Gedung Eme Neme Yauware, Kamis (15/10/2026).

Acara bernuansa keagamaan tersebut dibuka langsung oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob.

Ads

Mengusung tema “Menjalin Harmoni dalam Keberagaman, Membangun Indonesia yang Beriman, Damai, dan Sejahtera”, acara ini dipadati oleh ribuan masyarakat yang antusias mendengarkan tausiah dari sang habib.

Dalam sambutannya, Bupati Johannes Rettob menyampaikan rasa sukacita dan bangga atas kebersamaan warga Mimika yang senantiasa menjaga kerukunan di tengah keberagaman suku dan agama.

“Kita senang karena kita ada di Mimika, di mana kita semua hadir bersama dengan keberagaman ini. Untuk itu, saya berharap kita semua nanti mendengar apa yang menjadi tausiah dan catatan-catatan yang disampaikan oleh Habib. Ini menjadi dasar untuk kita renungkan dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Johannes Rettob.

Bupati Mimika, Johannes Rettob bersama Habib Husain Bin Jafar Al Hadar, Kepala Bagian Kesra, Natalia Nimpa dan masyarakat di sela-sela tabligh akbar, di Gedung Eme Neme Yauware, Kamis (15/10/2026).

Dengan nada berseloroh dan penuh kehangatan, Bupati Johannes mengaku tidak ingin memberikan sambutan terlalu panjang agar masyarakat bisa segera mendengarkan tausiah utama dari Habib Jafar.

“Saya tidak mau banyak bicara, nanti dimarahi orang karena masyarakat semua sudah tidak sabar ingin dengar Habib,” kelakarnya yang disambut gelak tawa para hadirin.

Mengakhiri sambutannya, Bupati Johannes Rettob secara resmi membuka jalannya Tabligh Akbar dengan harapan pesan-pesan perdamaian yang disampaikan dapat memperkuat toleransi dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Mimika.

Sementara itu, Pendakwah populer Habib Husein Ja’far Al Hadar kembali menyampaikan pesan mendalam terkait keberagaman dan kesetaraan beragama di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa istilah mayoritas dan minoritas di Indonesia sejatinya hanya pembagian yang terlanjur melekat, padahal seluruh anak bangsa sejatinya hidup setara tanpa memandang suku maupun agama.

Habib Jafar membagikan pengalaman berkesan saat melakukan kunjungan toleransi ke Timor Leste. Di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Katolik tersebut, ia mendapatkan pelajaran berharga dari seorang pimpinan umat Katolik setempat.

“Di sana mayoritas Katolik, tapi kata Romo Katolik di sana: ‘Di sini memang mayoritas Katolik, tapi bagi kami tidak ada istilah mayoritas dan minoritas. Kami ingin mengangkat derajat minoritas agar setara dengan mayoritas dengan selalu memprioritaskan minoritas,’” ungkap Habib Jafar menirukan ucapan Romo tersebut.

Pelajaran dari Timor Leste itulah yang menginspirasi Habib Jafar dalam setiap menyapa audiens. Ia kerap mengawali salam dengan memberikan penghormatan terlebih dahulu kepada saudara-saudara non-Muslim.

Menurutnya, pemikiran ini merupakan landasan penting dalam merawat kerukunan berbangsa dan bernegara.

“Pada dasarnya, minoritas seharusnya menjadi prioritas bagi mayoritas, karena kita semua seharusnya hidup bersama dalam kesetaraan,” tegas Habib Jafar.

Sebagai bentuk rasa hormat dan persaudaraan antarsuku serta budaya, Habib Jafar juga menyelipkan ungkapan adat Amolongo, Nimaowitimi yang melambangkan kehangatan, perdamaian, dan persatuan.

Melalui pesan ini, ia berharap masyarakat di Kabupaten Mimika senantiasa menjaga semangat persaudaraan tanpa menyampingkan kelompok manakah yang lebih kecil atau lebih besar.

Ia menyebut bahwa wujud toleransi sejati di Indonesia bukanlah sekadar wacana atau istilah inklusivisme yang sering diperdebatkan secara teoritis. Menurutnya, nilai-nilai toleransi sebenarnya sudah dihidupkan dan dipraktikkan secara alami oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Habib Jafar membagikan kisahnya saat berdiskusi dengan komika Priska Baru Segu. Ketika pertama kali diundang ke program Login empat tahun lalu, Priska mengaku bingung ketika ditanya mengenai definisi toleransi. Namun, saat Priska menceritakan latar belakang kehidupannya di daerah asal, praktik toleransi itu terlihat nyata.

“Ketika dia menceritakan kehidupannya, dia bercerita tentang bagaimana di sana dapur dipisahkan antara dapur umat Kristen dan dapur umat Islam agar makanan untuk umat Islam disajikan tanpa tercampur dengan apa yang dilarang dalam ajaran Islam. Semua cerita itulah yang saya sebut sebagai the real toleransi. Mereka hidup dalam toleransi walaupun tanpa banyak kata-kata,”tutur Habib Jafar.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Jafar juga menekankan pentingnya menghidupkan toleransi melalui tindakan konkret ketimbang sekadar narasi manis. Ia mengingatkan bahwa keberadaan seseorang hendaknya tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga memberi kesan yang mendalam. 

“Pesan tanpa kesan akan mudah hilang dari pikiran. Namun, jika ada kesan, pasti di dalamnya terkandung pesan yang mendalam. Yang paling penting adalah hidup kita, bukan hanya apa yang kita katakan,” tegasnya.

Ia pun mengutip peringatan dalam ajaran Islam mengenai bahaya bersikap hipokrit, di mana seseorang berujar manis tentang nilai-nilai kebaikan namun gagal melaksanakannya. Menurutnya, sungguh celaka orang yang hanya berbicara soal toleransi tetapi tidak menghidupkan dan melestarikan nilai-nilai tersebut di tengah perbedaan di sekitarnya.

Menutup penyampaiannya, Habib Jafar mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat toleransi dan menjaga kedamaian yang sudah ada. Mengutip lirik lagu populer, ia mengingatkan agar masyarakat tidak baru menyadari betapa berharganya toleransi setelah nilai itu hilang. (Sitha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *