Timika (suaramimika.com) – Badan Musyawarah (Bamus) DPRK Mimika menggelar pertemuan khusus, untuk membahas langkah penyelesaian konflik antar dua kelompok warga di Distrik Kwamki Narama yang kini telah menelan 11 korban jiwa.
Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau mengatakan, pihaknya menggelar rapat Bamus ini untuk membahas agenda rutin enam bulanan.
Namun, secara khusus, pihaknya juga membahas secara khusus untuk mencari solusi agar konflik ini segera berakhir.
“Penanganan konflik tersebut terkesan lambat, meski telah berlangsung cukup lama dan memakan banyak korban. Jadi hari ini kami sekalian gelar rapat khusus bahas karena sudah ada 11 orang yang meninggal dunia akibat konflik ini,” jelas Primus pada Selasa (11/1/2026).
Kata Primus, konflik Kwamki Narama terjadi di wilayah yang memiliki struktur pemerintahan lengkap serta kehadiran aparat TNI dan Polri.
Meski berdasarkan informasi yang diterima, sebagian pihak yang terlibat merupakan warga dari kabupaten lain, namun karena peristiwa tersebut terjadi di wilayah Kabupaten Mimika, pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab penuh.
Menurutnya, walaupun ada informasi bahwa yang terlibat merupakan warga dari kabupaten lain, namun konflik terjadi di daerah ini. Maka sudah menjadi tanggung jawab, bagi pemerintah mengambil langkah.
“Karena ini terjadi di Mimika, maka kami tetap harus mengambil langkah,” ungkapnya.
Ia menegaskan DPRK Mimika akan kembali berkoordinasi dengan Pemkab Mimika, serta TNI dan Polri, untuk membahas langkah-langkah konkret yang dapat diambil bersama guna menghentikan konflik.
“Kami akan koordinasi lagi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan, untuk memastikan langkah apa yang bisa diambil bersama agar perang ini segera berakhir,” ungkapnya.
Selanjutnya kata Ketua DPRK Mimika, penyelesaian konflik Kwamki Narama tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan keamanan, melainkan harus melibatkan unsur pemerintah, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.
Menyikapi kondisi tersebut, Primus menilai tim penyelesaian konflik perlu melibatkan anggota DPRK Mimika yang merupakan putra asli dari suku setempat, guna mempermudah pendekatan secara adat dan emosional.
“Kami akan melibatkan teman-teman anggota dewan yang berasal dari adat yang sama, dengan kelompok yang bertikai. Agar pendekatan bisa dilakukan dari hati ke hati,” pungkas Primus. (Sitha)




















